Artikel

Libatkan Al-Quran

Ditulis tanggal :12-08-2017 16:00

Libatkan al Quran Sebagai Sumber Inspirasi Pendidikan Saya amat yakin seyakin-yakinnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa anak usia BALITA (Bawah Lima Tahun) apabila dibiasakan untuk mendengar, membaca, menghafal serta mempelajari al Quran, maka pada fase berikutnya yakni pada masa di sekolah dasar dan awal sekolah menengah pertama (hingga 7 tahun tahun kedua dan ketiga atau sekitar usia 21 tahun) fungsi-fungsi penalaran, kognisi, emosi dan sosial berikut dengan segala potensinya akan turut berkembang dan terejawantahkan kearah yang lebih baik.
Sayangnya literatur penelitian ilmu pendidikan kita tidak banyak yang membahas terkait manfaat al Quran bagi perkembangan anak didik dari sisi psikologis dan non psikologis tersebut. Pengalaman empiris di Berbagai jenjang sekolah formal maupun non formal telah menunjukkan bukti bahwa Peserta didik yang hafal al Quran biasanya memiliki nilai akademis cukup tinggi serta disisi lain memiliki kepribadian dan akhlak yang baik. Semakin mantap pemahaman Peserta didik terhadap al Quran semakin mantap pula sosok pribadinya tersebut dalam kesehariannya.
Demikian pula seperti yang kita ketahui bahwa sejarah ilmu pada masa kejayaannya dulu Ilmuwan Muslim senantiasa tidak terlepas dari penguasaannya terhadap al Quran dan Hadist. Ayat-ayat qawliyyah berjalan seiring sejalan dengan ayat-ayat kauniyyah, sehingga terbentuklah sinergitas kedalaman intelektual dan keagungan akhlak yang luar biasa hingga kemudian menghasilkan berbagai karya spektakuler.
Karya-karya luar biasa itu menjadi sumber inspirasi ilmuwan Barat dalam mengembangkan ilmu dan teknologi kedepannya hingga dirasakan oleh kita manfaatnya sekarang ini. Alhasil, menurut hemat saya kedekatan anak didik dengan al Quran sudah harus dilakukan semenjak dini yakni pada usia-usia emas atau dikenal dengan usia BALITA.
Namun demikian upaya memasyarakatkan al Quran sejak awal di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) terkendala oleh tidak adanya atau kurangnya kepedulian pemangku kebijakan pendidikan (Pemerintah) untuk menempatkan al Quran sebagai sumber untuk pengembangan kepribadian, intelektual dan social anak didik terutama anak-anak yang beragama Islam.
Mesti ada elite pimpinan yang melakukan terobosan dengan berani menempatkan al Quran sebagai sumber inspirasi pendidikan kita. Jika tidak ada pemangku kebijakan tingkat atas yang berperan dalam hal ini maka agak sulit memasyarakatkan al Quran di dunia pendidikan kita khususnya pada jenjang PAUD dan SD/SMP (Kelas 1 hingga kelas 9).
Dalam sejarahnya umat Islam Indonesia pernah memililki elite pemimpin yang berani, tegas dan tepat dalam mengeluarkan kebijakan pendidikan yaitu ketika saat itu Perdana Menteri Muhammad Natsir dan Menteri Agama Wahid Hasyim mengeluarkan keputusan & peraturan yang mewajibkan setiap sekolah umum memasukkan matapelajaran agama. Langkah ini merupakan terobosan luar biasa dan patut diapresiasi.
Entah apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita jikalau kedua elite ini tidak teguh dan bersikeras menerapkan konsep cemerlangnya tersebut. Mungkin akan makin banyak orang-orang Muslim Indonesia yang tidak memiliki arah hidup yang sejalan dengan ajaran agama. Padahal dengan adanya pelajaran agama saja secara umum kehidupan masyarakat kita masih jauh dari nilai-nilai agama apalagi jika tidak ada pelajaran agama. Tapi paling tidak keputusan memasukkan matapelajaran agama kedalam kurikulum pendidikan nasional merupakan langkah tepat, strategik dan futuristik.
Tentu saja upaya memperbaiki penyampaian materi matapelajaran agama harus terus menerus diupayakan seoptimal mungkin. Salah satunya dengan menjadikan al Quran sebagai sumber inspirasi mulai dari tingkat PAUD, SD, sekolah menengah hingga perguruan tinggi dalam sistem kurikulum pendidikannya. Sehingga dasar filosofi hidup para peserta didik terjaga dan diharapkan keberkahan dikaruniakan Allah SWT terhadap mereka.
Jadi, materi al Quran perlu masuk kurikulum sejak usia dini (PAUD). Pada jenjang pendidikan usia dini anak-anak diperkenalkan dengan ayat-ayat al Quran yang demikian indah dan tertata dengan baik. Lalu mereka dibiasakan mendengar alunan ayat-ayat al Quran disamping juga melantunkannya sendiri.
Tingkat berikutnya mereka dituntun untuk menghafalkannya secara bertahap hingga 30 Juz. Hafal 30 Juz bukan persoalan yang sulit bagi anak usia BALITA karena sudah banyak bukti akan hal itu. Keberkahan dari Allah akan diturunkan bagi mereka yang dekat dengan al Quran sebagaimana telah dikaruniakanNYa kepada para ilmuwan Islam masa lalu yang hafal al Quran.
Diharapkan Indonesia emas akan terwujud setelah al Quran menjadi sumber inspirasi pendidikan yang dilakukan semenjak dini. Terkait hal teknis dalam memasyarakatkan al Quran sebagai bagian pembelajaran wajib di tingkat PAUD dan pendidikan dasar dapat dirancang secara baik setelah para elite penyelenggara negara seia sekata dalam mengejawantahkan ide ini dalam bentuk kebijakan pendidikan seperti halnya dahulu M. Natsir dan Wahid Hasyim menorehkan sejarah terkait pendidikan agama di sekolah-sekolah umum.
Gagasan ini sebagai upaya menelaah secara seksama tentang penyebab kemunduran umat Islam pada umumnya dan agar memperoleh kemanfaatannya bagi bangsa dan negara kita. Wallahu a’lam.
Oleh : Aries Musnandar
(Praktisi dan Pemerhati Pendidikan)


Komentar


  •   Manfaat dan keutamaan shalat tahajjud...
  •   Buang Jauh-Jauh Rasa Takut Kepada SelainAllah...
  •   Libatkan Al-Quran ...
  •   Hidup Bersama Al-Qur'an...
  •   Beberapa Syarat Mencegah Kemungkaran Menurut...
  •   Manajemen ...
  •   Exercise: Tinjauan Nahwu Shorof pada Hadits...
  •   7 Manfaat Ikut Kegiatan Pramuka di Sekolah...
  •   AMANAT PEMBINA UPACARA HUT RI KE 74 di PESANTREN...
  •   KIAT-KIAT DALAM MEMBACA AL-QUR'AN AL-KARIM...
  • Pencarian

    Login Form

    Jajak Pendapat

    Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
    Ragu-ragu
    Tidak
    Ya
     Lihat

    Kalender

    Aug / 2020
    Mi Se Se Ra Ka Ju Sa
    1
    2 3 4 5 6 7 8
    9 10 11 12 13 14 15
    16 17 18 19 20 21 22
    23 24 25 26 27 28 29
    30 31