Syekh Usamah Al-Azhari dengan Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi

:: Diskusi antara Syekh Usamah Al-Azhari dengan Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi ::

 

Dalam suatu dars Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari bersama Dr. Usamah Al-Azhari pada pembahasan Tafsir Surat Al-Fatihah, ketika Ibnu Hajar Al-Asqalani meluruskan perkataan Al-Suhaili dan Baqiyy ibnu Makhlad yang menolak Surat Al-Fatihah disebut sebagai Ummul Kitab; Dr. Usamah menguatkan pendapat Ibnu Hajar tersebut dengan mengatakan: 

 

“Bahkan tidak hanya Al-Qur’an yang induknya adalah Surat Al-Fatihah, setiap surat dalam Al-Qur’an, apabila kita renungi dengan mendalam, masing-masing dapat kita datangkan satu ayat yang menjadi induknya. Dari dulu saya pernah melakukan perenungan serius dan mendalam tentang ini, dan saya menemukan, terdapat satu ayat di dalam setiap surat yang menjadi poros di mana seluruh ayat yang ada dalam surat tersebut beredar dalam orbitnya. Dia seakan menjadi jantung yang memompakan darah ke seluruh sekujur ayat yang ada.

 

Pada Surat Al-Baqarah, setelah pengamatan panjang, saya menemukan induknya adalah ayat yang berbunyi:

 

اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

 

Perintah untuk berserah diri. Dalam artian: apapun perintah, larangan, kebijakan dan ketentuan; jika itu muncul dari Allah, seorang muslim mesti tunduk sepenuh hati mengimani dan menaatinya secara langsung tanpa mempertanyakan illat di baliknya. Sekalipun tidak terjangkau oleh nalarnya yang terbatas.

 

Setiap maqashid Surah Al-Baqarah berputar pada poros ayat ini. Misalnya kisah dialog Allah dengan Malaikat saat menghendaki penciptaan khalifah di muka bumi, malaikat sempat mempertanyakan illat di baliknya, sebelum mereka diberikan pelajaran bahwa ketentuan Allah lah yang terbaik. Dalam kisah Sapi Betina (Al-Baqarah), ketika Bani Israil bertanya kepada Nabi Musa tentang pelaku pembunuhan, Allah malah menurunkan wahyu menyembelih Sapi Betina, kisah ini menjadi pelajaran penting bagi kita agar tunduk segera dengan perintah Allah dan Nabi-Nya dan bukan seperti Bani Israil yang banyak mempertanyakan. Begitupun perintah dalam pengalihan kiblat, yang porosnya adalah ujian ketulusan penundukan. Pun dengan perintah shalat, berpuasa, haji dan seterusnya yang mana semua adalah simbol penyerahan diri seutuhnya kepada Allah sebagaimana substansi dari ayat di atas.

 

Kemudian, saya merenungkan Mihwar dari Surat Āla Imran, saya berkesimpulan bahwa seluruh ayat yang ada pada surat ini berputar pada poros Al-Ishtifa (hak preogratif Allah dalam memilih hamba-hamba pilihan-Nya) yang terdapat pada ayat:

 

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

 

Saya melanjutkan perenungan pada Surat Al-Nisa, saya temukan induknya pada ayat yang memerintahkan agar menghomarti jenis kelamin masing-masing dengan kelebihannya tersendiri yang Allah anugerahkan, sehingga setiap manusia tidak saling mencemburui bagian orang lain, yaitu ayat yang berbunyi:

 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

 

Dalam Surat Al-Anfal, saya temukan induknya adalah:

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

 

Pada Surat Al-Qashash, induknya adalah ayat:

 

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗوَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

 

Dr. Usamah telah melakukan perenungan ini pada setiap surat, sebagian besar surat telah diilihami oleh Allah letak induknya dan sebagiannya lagi belum. Saat ini beliau sedang proses merampungkan proyek ini. Jika diberikan taufik oleh Allah menyelesaikannya, maka akan diterbitkan dalam kitab yang berjudul

 

الإِمْعَان فِي مَحَاوِرِ سُوَرِ الْقُرْآن

 

Lalu Dr. Usamah bernostalgia, 

 

“Tahun 2008, kami mendarat di Damaskus di waktu Asar dan langsung menuju Masjid Besar Umawi untuk menghadiri dars Dr. Said Ramadhan Al-Buthi.

 

Lepas dars, kami maju kepada beliau dan melaporkan diri musafir dari Kairo. “Ahlan wa sahlan!” Sambutnya dengan ramah. “Saya akan meminta salah satu ahbab di sini untuk mengantarkan kalian ke rumah. Saya akan menyusul, sebab ada agenda sebentar.”

 

Setelah tiba di rumahnya, menyusul ketibaan beliau. Berlangsunglah duduk yang isi perbincangannya adalah dalam Mubahatsah Ilmiah. Tidak terasa serunya pembicaraan. Berlalu delapan jam hingga Subuh.”

 

Banyak hal yang dibicarakan selama delapan jam itu. Di antaranya, Dr. Usamah mengkonsultasikan tentang proyek di atas dalam penelusuran ayat induk dari setiap surat, dan memperlihatkan draft yang sementara telah beliau selesaikan. Mendengar itu, Dr. Al-Buthi mendebat Dr. Usamah, “Bisa saja orang lain akan mendatangkan ayat lain selain ayat yang kau sebutkan. Jadi permasalahan ini kan relatif.”

 

“Betul. Orang lain bisa mengklaim ayat lain sebagai induknya. Tetapi saya sudah mengumumkan standarnya, bahwa mihwar yang disebutkan haruslah dapat dicari korelasinya dengan semua ayat dengan mudah, dan bukan secara takalluf. Bila pengklaim tersebut tidak menggunakan standar ini, sehingga ada satu ayatpun yang tidak bisa diindukkan korelasinya pada Ummu Al-Surat yang dia sebutkan, maka dengan gampang akan kita bantah ijtihadnya.” Dr. Al-Buthi pun tidak menjawab. Dan pembicaraan beralih pada pembahasan lain.

 

Sampai di saat kami hendak minta diri, beliau bertanya, “Kalian sudah ada tempat peristirahatan selama di Damaskus, kalau belum biar saya yang sediakan.”

 

“Tidak, Maulana. Jadwal penerbangan kami sebentar lagi.”

 

“Jadwal terbang kemana?”

 

“Kembali ke Kairo.”

 

“Kalian baru saja sampai kemarin, dan pulang sekarang juga?”

 

“Ya.”

 

“Jadi untuk apa kalian jauh-jauh datang dari Kairo ke Damaskus?”

 

“Untuk dapat duduk dan berdiskusi dengan Anda, Maualana.”

 

“Apa? Jadi hanya untuk ini kalian datang kemari?” Kaget Dr. Al-Buthi.

 

Di akhir, Dr. Al-Buthi mengatakan, “Baik. Proyek yang kamu sebutkan tadi, kapan akan kamu selesaikan dan terbitkan?”

 

“Saya tadinya meminta keridhaan antum. Selama antum tidak ridha, saya tidak termotivasi untuk melanjutkan.”

 

“Selesaikan secepatnya dan ketika siap terbit, kabari saya agar saya berikan Taqrizh (endorsement).”

 

“Benar juga kata antum, Maulana. Bisa jadi nanti ijtihad orang akan berbeda-beda tentang ini.”

 

“Tidak! Kitab itu akan sangat berfaidah. Segera selesaikan!” Tegas Dr. Al-Buthi.

 

Dr. Al-Buthi bertanya, “Sebentar. Usia kamu berapa saat ini?”

 

“Tiga puluh tahun.”

 

“Syuf. Jika kamu sudah bisa menekuni bidang ini di kala usiamu masih 30 tahun, bagaimana kalau nanti kamu berusia 80 tahun? Saya melihat, Allah akan mengembalikan denganmu Al-Azhar kegemilangannya.”

 

Dua bulan berikutnya Dr. Usamah pergi berziarah ke kediaman Habib Ali Al-Jufri di Abu Dhabi. Habib Ali bertanya, “Apa yang kamu lakukan di kediaman Dr. Al-Buthi ketika kamu ziarah ke kediaman beliau di Damaskus?”

 

“Memangnya kenapa?” Tanya Dr. Usamah.

 

“Saya berjumpa dengan beliau bulan lalu. Demi Allah, sepanjang pertemuan, beliau hanya menyebut-nyebut tentangmu. Dan beliau berkata:

 

بقي في الدنيا خير، ومن طلاب العلم من يرحل من القاهرة إلى دمشق فقط لأجل العلم وأهله

 

“Tersisa di dunia ini kebaikan selama masih ada Thalib Ilmu seperti dia, yang rela jauh-jauh datang dari Kairo ke Damaskus hanya untuk ilmu dan ahlil ilm.”

 

Beberapa bulan kemudian, Dr. Al-Buthi ternyata serius mengirimkan surat kepada Dr. Usamah yang isinya adalah Taqrizh tentang kitab tersebut. Sayangnya -kata Dr. Usamah- naskah itu hilang, dan Dr. Al-Buthi wafat pada tahun 2013.

 

Dr. Usamah juga pernah menerbitkan gagasan ini dalam sebuah jurnal. Pasca terpublikasinya jurnal tersebut di kalangan akademisi, datang sebuah telpon dari Madinah Al-Munawwarah kepada beliau.

 

“Apakah Anda yang memiliki jurnal ini?”

 

“Betul.”

 

“Coba carilah kitab Sidi Muhammad Al-Wafa yang berjudul Al-Azal, lihat di halaman fulani, yang di sana terdapat satu baris kalimat yang persis sama dengan kalimatmu dalam jurnal tersebut.”

 

Dr. Usamah padahal belum pernah membaca kitab itu sebelumnya. Setelah dibuka sesuai arahan penelpon beliau, ditemukanlah redaksi kalimat beliau sama persis dengan seorang Arif Billah Sidi Muhammad Al-Wafa:

 

واعلم أن لكُلِّ سورةٍ من سوَر القرآنِ آيةً هي أمٌ لهذه السورة 

 

*Zeyn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *