Beribadah Tak Sempurna Namun Dicatat Sempurna

Oleh Kang Mas Solehudin

Bagi seorang mukmin, ibadah sudah menjadi barang tentu menjadi kewajiban mutlak yang tak terelakkan. Ibadah adalah bentuk perilaku yang menjadi persembahan dan menjadi bukti status kehambannya pada Sang Kholik. Ketaatan dalam ibadah menjadi pembeda antara yang mukmin taat dengan yang tidak. Berangkat dari QS Adz Dzariyat ayat 56

“ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ”

“Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” menyiratkan bahwa ibadah sebenarnya menjadi fokus utama oleh seorang hamba. Allah menjanjikan pahala dan kehidupan di surga dengan lantaran perantara catatan amalan ibadah saat diberi kesempatan hidup di alam dunia. Catatan amal seorang muslim yang akan dihisab di yaumul hisab menjadi rangakaian agenda pada hari akhir kelak. Pencatatan amal secara detail bahkan hingga amalan seukuranمثقال ذرّة.

Secara fair dalam kaidah umumnya, ketika seseorang beramal secara sempurna maka akan dicatat sempurna. Sedangkan hamba yang beramal tak sempurna akan dicatat tak sempurna. Namun, di luar rumusan tersebut Allah SWT menghadirkan sifat Arr Rahim nya kepada hamba dengan ketentuan  yang berbeda. Amal ibadah yang sebenarnya dilakukan secara tak sempurna  namun dicatat sebagai amal yang sempurna. Ketentuan ini tidak berlaku pada semua melainkan hanya berlaku bagi hamba yang sedang sakit. Secara khusus lagi  tidak semua hamba yang sakit, namun berlaku hanya pada hamba sakit yang saat ia dalam keadaan sehat ia beribadah secara istiqomah. Sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiyallohun’anhu

إذا مرض العبد المؤمن أمر الله تعال الملآئكة أن أكتبوا لعبدي أحسن ماكان يعمل في الصّحة والرّخاء

“ Jika seorang hamba mukmin sakit, maka Allah memerintahkan para malaikat : ‘Tulislah untuk hamba-Ku itu amal terbaik yang ia lakukan saat ia berada dalam keadaan sehat dan lapang!’.”

Faktor istiqomah saat sehatlah yang membuat ketentuan ini berlaku. Hamba yang memang istiqomah dalam beribadah seperti sholat berjamaah, tilawah, sedekah, qiyamul laul  saat sehat dengan sempurna, maka saat sakit pun dan tak dapat melakukannya dengan sempurna tetap tercatat sebagai amalan sempurna karena niat dan istiqomahnya.

Kuncinya terletak pada keistiqomahannya yang menjadikan ketidaksempurnaan ibadahnya terhitung dan tercatat sempurna.Ini senada dengan kutipan masyhur di kalangan para ulama yaitu

  الاستقامة خير من الف كرمة

memiliki makna bahwa istiqomah atau konsistensi dalam beribadah itu lebih baik dari pada seribu karomah. Karomah yang dimaksud adalah kemuliaan/keistimewaan berupa kemampuan luar biasa yang melebihi orang pada umumnya. Karena istiqomah beribadah kepada Allah membuat semakin kuat hubungan hamba dengan Rabbnya, sedangkan sebuah Karomah jika tidak disikapi dengan baik justru mampu melalaikan ibadah kepada Allah.

Demikian pentingnya sebuah istiqomah dalam beribadah saat sehat dan perhatian Allah pada hambaNya yang beristiqomah.

Wallohu ‘alam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *